Pendidikan Adalah Benteng Terakhir Peradaban Manusia



Sering kita dengar pemeo atau ungkapan "Muda Foya2, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga". Dari ungkapan tersebut timbul pertanyaan iseng: "Persamaan Matematis atau Fisika Apa Yang Digunakan?" . Semestinya hal itu punya referensi yang kuat dari biografi, sejarah maupun legenda......tapi kayanya nggak ada tuch...mimpi kali yee..

Kita anggap perumpamaan berikut:

Suatu saat anda mau ke  Jakarta dari Bandung.Pilihan rute yang kita punya adalah melaju ke Padalarang melalui Jalan Tol Padaleunyi, terus ke Bogor serta lewat Jalan Tol Jagorawi, rute kedua via Purwakarta dengan memakai Jalan Tol Cipularang (atau bisa saja tanpa melalui tol), dan pilihan terakhir mampir ke Subang terus ngebut di JalanTol Cikampek sampai Jalan Tol Dalam Kota Jakarta.

Anggap perjalanan ke Padalarang itu masa muda kita. Sesuai perumpamaan di atas, maka kita hanya punya 3 (tiga) rute ke Jakarta yaitu melalui Bogor, Purwakarta dan Subang sebagai  perumpamaan masa tua kita. Sedangkan Jakarta, kita umpamakan sebagai akhir perjalanan kita (mati).


So.......Apa artinya????

Sedikit kemungkinan seseorang melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta  melalui  Ambon atau Makassar (kita umpamakan ini Foya2) misalnya, karena akan memerlukan biaya yg besar, waktu yang lama dan energi/pengorbanan yang tidak sedikit. Sangat jarang (boleh dikatakan mustahil), bila seseorang yang dimasa mudanya foya-foya, pada masa tuanya bisa kaya raya dan mati masuk surga ......Ayolah legenda tersebut bukan lagi sebuah cerita tapi hanya merupakan sebuah skenario yang tidak laku di dunia yang penuh dengan Sunatullah ini.

13 CommentsChronological   Reverse   Threaded
renayenita wrote on Jun 19, '07
??? aku masih binun mas ama perumpamaan di atas..
apa aku yg rada tulalit ya..
kan di sktr perjalanan ke padalarang jg bs belok2 dikit tuk foya2
ga musti foya2 di ambon ato makassar?
sardjana wrote on Jun 19, '07
He..he...kalau hanya sekedar singgah (makan, minum, nginep dsb) di sekitar Padalarang itu boleh saja dan bukan foya2 tapi refreshing.......tapi kalu tujuan hidup kita (yg semula Jakarta) udah mengarah ke ambon atau makassar (ini perumpamaan lho..).....bisa dibayangkan energi yang dibutuhkan (mengingatkan rumus fisika)
renayenita wrote on Jun 19, '07
tp kan energi kita tdk terbatas. bs aja kan ke ambon dulu (hehehe.. msh ngeyel)
yg penting kan ujung2nya sampe jkt jg :)
sptnya misal aku, tuk jd penulis aku jd desainer dulu, keliatannya gak nyambung
tp dr desainer aku srg freelancer di penerbit jd kemudian ditawarin nulis deh
sardjana wrote on Jun 20, '07
IMHO. Mbak Rena...Itu sich bukan foya2 tapi potensi (baca: menghasilkan uang dan memberikan kebahagiaan lahir batin pd diri sendiri dan orang lain).....pada akhirnya tujuannya khan menjadi "somebody from anybody". Bisa dibayangkan kalo saya ingin jadi dosen dan konsultan pada masa tua nanti....tapi belok dulu jadi preman plus buaya darat ditambah sering mabuk (baca: hanya preman yg menghasilkan uang...yg lainnya bikin dompet jebol)....betapa besar energi dan daya (plus biaya kesehatan fisik dan moral) yg harus saya bayar agar kembali ketujuan semula...Maaf bila kurang berkenan.
renayenita wrote on Jun 20, '07
hohohoho... tenang mas, ok, ok, pokoke kl bejat segera tobat
soale kl nunggu bsk2 masih susah ditinggalin tuh bejatnya
mas pengen jd dosen toh... boleh kepengn tp jgn tll bgt
soale aku yg dulunya sebel bgt ngajar malah ketiban jd dosen jg...
padahal dulu pengen bgt jd artis hehehe...
sardjana wrote on Jun 20, '07
BTW. Banyak lho..dosen yang jadi artis seperti Pak Efendi Gazali (Republi Mimpi) dan Pak Roy Suryo (Selebritis Multimedia)....mudah2an impianny jadi artis tercapai karena punya fundamen yg kuat sebagai dosen....Ngajar dimana nich????
renayenita wrote on Jun 20, '07
ngajar di poltek hehehe... udah ga tll kepengen jd artis
abis byk artis yg pd ga py privacy hidupnya
aku cuma pengen wirsawasta n jd penulis aja :)
hendykosasih wrote on Jun 26, '07, edited on Jun 26, '07
Hehehe jadi kan kesimpulannya adalah, sebenarnya manusia hidup hanya untuk menghadapi atau menanti kematian sebagai suatu hukum kepastian. Tinggal dalam rentang waktu itu akan diisi dengan melakukan apa? Karena kita adalah dalang dan sekaligus wayang bagi kehidupan kita sendiri, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam proses perjalanan kita, walau sudah direncanakan dengan rapi sekalipun, banyak pilihan atau jalan yang harus kita ambil karena situasi saat itu membuat kita harus memilihnya.

Kalau sampai ke Ambon, bisa membuat kita memperdalam dan memperkaya spiritual dan JATI DIRI kita sih tidak apa2, juga kalau sampai ke Ambon bahkan Merauke sekalipun hanya demi mengumbar EGO dan nafsu untuk bertualang ya tidak apa-apa juga. Hanya pada saat sudah tiba dekat Jakarta akan beda dalam memandang, menghadapi dan mengalaminya, walau sebenarnya esensinya sama yaitu raga kembali ke dalam KETIADAAN.
Nah kebanyakan orang kan baru menyadari, bersyukur atau menyesali pada saat di pintu tol Cawang atau Pondok Gede Timur, atau mungkin Tanjung Priok atau juga Bandara Soekarno Hatta dan Halim atau Gambir, di mana semua itu sudah pada situasi Point of No Return.
Terimakasih ya pak sharingnya....
renayenita wrote on Jun 26, '07
hmm.. iya bener-bener... cepe deh buat kamu!
hidup itu cuma sekali, justru krn cuma sekali jgn macem2.
buruan tobat dah soalnya kita ga tau sampe akhirnya (jakartanya) kapan.
asadiyoko wrote on Dec 11, '07
Saya mencoba melihat idiom dari Joger ini dari sisi yang lebih positif :
Lhah.. kalo sama Allah diberi kesempatan untuk 'muda foya2, tua kaya raya & mati masuk sorga' gimana dong kang? tentu alhamdulillah. Tentu hal ini bagi hal foya2 di jalan Allah, alias bagi2 rizki, shodakoh, zakat dsb.. semakin kita foya2 bagi shodaqoh, zakat, makin kaya kita di masa tua.. dan bila foya2 shodakoh itu diteruskan, dijamin masuk sorga.. jadi inget tauziah ustad siapa yah? yang kecil itu (bkn UJ).. setiap kali kita bagi rejeki kita bagikan, makin banyak Allah memberi kenikmatan/ balasan Gak ada rumusnya bahwa memberi zakat itu akan membuat kita miskin, padahal kalo pake matematika atau fisika, mengeluarkan sebagian harta itu kan pasti mengurangi aset. Indonesia itu miskin & banyak bencana, karena banyak orang Islam yang masih sayang mengeluarkan sebagian dari hartanya di jalan Allah, padahal harta itu milik Allah.

Saya juga tidak percaya kalau perjalanan dari Bandung-Jkt lewat Makasar itu sia2 (dianalogikan sebagai foya2). Bagaimanapun juga pasti ada hikmah dari perjalanan kita itu, siapa tahu perjalanan kita ke Ambon & Makasar itu sebenarnya rahmat dari Allah untuk membuat mata kita lebih terbuka kepada saudara2 kita di sana. Lha, kalau udah terlanjur sampai Makasar, trus apa yang harus kita lakukan? Kalau sudah terlanjur foya2 & kelebihan duit, trus apa yang harus dilakukan? Sebaiknya kembali lagi ke Allah khan? Saya sih percaya hal ini, dan semoga bisa saya tularkan ke anak saya.. jadi dari kecil dia sudah terbiasa foya2 bagi2 zakat..

Kang, saya punya teman yang hidupnya hampir seperti yang kang Sardjana sebutkan di atas,.. kalo org inggris bilang 'born with silver spoon in his mouth', kalo saya amati dari dekat, untungnya, orang tuanya memang mendidik dia dengan pendidikan agama yg benar & kuat (mungkin ada hubungannya dengan keturunan Arabnya :)) serta contoh/ tauladan dari kedua orang tuanya.. Aku memang gak bisa njamin kalo mati dia pasti masuk sorga. Tapi kalau perilaku 'suka bagi2 zakat' ini sudah mendarah daging (menjadi 'habit'), suatu saat pasti Allah akan memberi tempat di sisiNya..
Bagiku yang penting, tetap berusaha tawakal, mengikuti perintahNya, menjauhi laranganNYa dan berpikir positif.
sardjana wrote on Dec 11, '07
Saya mencoba melihat idiom dari Joger ini dari sisi yang lebih positif :
Lhah.. kalo sama Allah diberi kesempatan untuk 'muda foya2, tua kaya raya & mati masuk sorga' gimana dong kang? tentu alhamdulillah. Tentu hal ini bagi hal foya2 di jalan Allah, alias bagi2 rizki, shodakoh, zakat dsb.. semakin kita foya2 bagi shodaqoh, zakat, makin kaya kita di masa tua.. dan bila foya2 shodakoh itu diteruskan, dijamin masuk sorga.. jadi inget tauziah ustad siapa yah? yang kecil itu (bkn UJ).. setiap kali kita bagi rejeki kita bagikan, makin banyak Allah memberi kenikmatan/ balasan Gak ada rumusnya bahwa memberi zakat itu akan membuat kita miskin, padahal kalo pake matematika atau fisika, mengeluarkan sebagian harta itu kan pasti mengurangi aset. Indonesia itu miskin & banyak bencana, karena banyak orang Islam yang masih sayang mengeluarkan sebagian dari hartanya di jalan Allah, padahal harta itu milik Allah.

Saya juga tidak percaya kalau perjalanan dari Bandung-Jkt lewat Makasar itu sia2 (dianalogikan sebagai foya2). Bagaimanapun juga pasti ada hikmah dari perjalanan kita itu, siapa tahu perjalanan kita ke Ambon & Makasar itu sebenarnya rahmat dari Allah untuk membuat mata kita lebih terbuka kepada saudara2 kita di sana. Lha, kalau udah terlanjur sampai Makasar, trus apa yang harus kita lakukan? Kalau sudah terlanjur foya2 & kelebihan duit, trus apa yang harus dilakukan? Sebaiknya kembali lagi ke Allah khan? Saya sih percaya hal ini, dan semoga bisa saya tularkan ke anak saya.. jadi dari kecil dia sudah terbiasa foya2 bagi2 zakat..

Kang, saya punya teman yang hidupnya hampir seperti yang kang Sardjana sebutkan di atas,.. kalo org inggris bilang 'born with silver spoon in his mouth', kalo saya amati dari dekat, untungnya, orang tuanya memang mendidik dia dengan pendidikan agama yg benar & kuat (mungkin ada hubungannya dengan keturunan Arabnya :)) serta contoh/ tauladan dari kedua orang tuanya.. Aku memang gak bisa njamin kalo mati dia pasti masuk sorga. Tapi kalau perilaku 'suka bagi2 zakat' ini sudah mendarah daging (menjadi 'habit'), suatu saat pasti Allah akan memberi tempat di sisiNya..
Bagiku yang penting, tetap berusaha tawakal, mengikuti perintahNya, menjauhi laranganNYa dan berpikir positif.
He..he...he setuju 100%....

Kalau yang itu sih foya2-nya "not urgent but important" (http://sardjana.multiply.com/journal/item/30) dan sangat tidak dilarang.......

Semua yang teman Mas lakukan itu bukan foya2 namun "melakukan investasi akhirat" yang akan meningkatkan "equity and profit".....

IMHO. Perjalanan dari Bandung-Jkt lewat Makasar akan dilakukan bilamana kita ketahui kota antara itu (a.k.a Makassar) merupakan hijrah yang memberikan perubahan besar bagi kita.....Dan hijrah seperti dilakukan oleh nabi hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup.... :-)
ilhamks wrote on Aug 8, '08
mas..kayanya biar ga jadi perdebatan..gimana kalo trayeknya ganti jadi DEPOK-MONAS
kan banyak jalan tuh, mau lewat tol, lewat warung buncit, fatmawati..ato naik KRL..mau tau baik buruknya..coba satu2..dan kita bakal tau..mana yang penting ato ga. hehehe..dan pasti kita tau mana yang mubazir ato mana yang ga..yang jelas..kalo sebelum ke monas masih muter tol 10 kali..kita
pasti sepakat..itu mubazir..hehehhee...

oh iya..satu lagi yang tak kalah penting...

depok monas ini trayek istri saya kerja..huahahahha
sardjana wrote on Aug 10, '08
ilhamks said
mas..kayanya biar ga jadi perdebatan..gimana kalo trayeknya ganti jadi DEPOK-MONAS
kan banyak jalan tuh, mau lewat tol, lewat warung buncit, fatmawati..ato naik KRL..mau tau baik buruknya..coba satu2..dan kita bakal tau..mana yang penting ato ga. hehehe..dan pasti kita tau mana yang mubazir ato mana yang ga..yang jelas..kalo sebelum ke monas masih muter tol 10 kali..kita
pasti sepakat..itu mubazir..hehehhee...

oh iya..satu lagi yang tak kalah penting...

depok monas ini trayek istri saya kerja..huahahahha
He..he...he..Selama dari Depok untuk menuju Monas tidak lewat Cilegon atau Bandung atau kota lain yang tidak punya kepentingan dengan Depok dan Monas....sah2 saja....Semua dikembalikan kepada Sunatullah dan tujuan semula dari Kang Ilham dan istri.....:-)
Add a Comment